WASPADALAH !!! Dongeng Ini Tak Layak Dibaca Anak-anak! Inilah Alasannya


Ini penting banget! Anda harus baca, agar anak-anak Anda tak dibacakan atau membaca sendiri dongeng-dongen yang isinya ini sebenarnya bukan untuk bacaan anak kecil. Anda harus pintar memilah mana bacaan dongeng yang pantas untuk anak Anda dan tidaknya.

Dongeng-dongeng ini padahal sudah sering kita baca dan juga kita ketahui kisahnya. Karena tidak hanya hadir dalam bentuk tulisan, tapi juga sudah ada filmnya.



Cerita-cerita dongeng melekat dan mewarnai dunia masa kecil kita. Tapi tahukah kamu, ada beberapa dongeng yang versi aslinya berbeda jauh dengan cerita yang beredar sekarang. Versi asli dongeng tersebut lebih kelam dan bisa membuat kamu bergidik. Dongeng-dongeng tersebut adalah:

1. The Little Mermaid


Cerita karya Hans Christian Andersen yang berulang kali diadaptasi Disney menjadi pembuka versi asli dongeng klasik yang seharusnya tidak dibaca anak-anak.

Dalam versi Disney, cerita berakhir dengan bahagia. Ariel si putri duyung bisa berubah menjadi manusia. Ia juga berhasil menikah dengan pangeran.

Kisah asli yang dituliskan H.C. Andersen tapi tidak seperti itu.

Versi asli dongeng ini sungguh mengerikan dan merusak imajinasi masa kecilmu. Ceritanya sewaktu Ariel minum ramuan dari penyihir, ekor ikannya terbelah menjadi dua. Ariel bisa berjalan di atas tanah meskipun dalam kondisi berdarah-darah. Hii…

Sintingnya, pangeran yang melihat Ariel berdarah-darah seperti itu malah terhibur. Ia memerintahkan Ariel untuk menari. Ia semakin girang melihat Ariel yang tambah kesakitan.

Menari seperti itu pun tidak menjamin Ariel akan menikah dengan pangeran. Pangeran kelihatannya lebih memilih menikah dengan perempuan lain.



Meski begitu Ariel tidak mencegah pangeran menikah dengan perempuan lain. Padahal jika Ariel tidak menikah dengan pangeran, ia akan berubah menjadi buih-buih laut.

Ada sih cara lain untuk memperpanjang hidup putri duyung tersebut, yaitu dengan membunuh si pangeran. Mirip seperti film The Mermaid-nya Stephen Chow. Tapi lagi-lagi, bukannya membunuh pangeran, Ariel memilih percaya pada kekuatan cinta.

Ia akhirnya berubah menjadi buih-buih di lautan. Ia tidak lagi punya jiwa dan harus melakukan kebaikan selama 300 tahun untuk bisa mendapatkan jiwanya lagi.

Versi asli dongeng Little Mermaid ini terlalu gelap untuk dikonsumsi anak-anak. Sepertinya lebih cocok untuk jadi bacaan orang yang lebih dewasa. Kita diajar bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Selalu ada harga yang harus kita bayar untuk mencapai impian tersebut.

2. Timun Emas


Timun Mas yang sudah kita hafal betul ceritanya, ternyata tidak terlalu cocok sebagai dongeng untuk anak-anak?

Seperti setiap dongeng, Timun Mas punya beberapa versi cerita. Secara garis besar, Timun Mas mengisahkan tentang seorang janda bernama Mbok Srini yang mengharapkan keturunan.

Permintaan tersebut terkabul setelah raksasa Buto Ijo memberikan benih timun kepada Mbok Srini. Mereka membuat kesepakatan, dalam benih tersebut terdapat seorang bayi.

Mbok Srini boleh merawat bayi tersebut, tapi tujuh belas tahun kemudian, anak tersebut harus diserahkan kembali pada Buto Ijo.



Letak ketidaklayakan dongeng ini sebetulnya ada pada pesan moralnya. Mbok Srini tidak menepati dan melupakan janjinya kepada Buto Ijo karena terlalu sayang dengan Timun Mas.

Pada akhirnya, Mbok Srini justru memberikan senjata kepada Timun Mas untuk melawan Buto Ijo. Moral ceritanya terasa ganjil bukan? Jika memang Mbok Srini sejak awal tidak siap untuk menepati janji seharusnya dia tidak perlu mengambil benih tersebut.

3. Sangkuriang


Seperti halnya Timun Mas, dongeng Sangkuriang juga sering muncul dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal, coba deh perhatikan, versi asli dongeng ini kan cukup mengerikan.

Sepasang dewa-dewi dikutuk menjadi hewan. Sang Dewa berubah menjadi seekor anjing sementara Sang Dewi berubah menjadi celeng.

Saat kehausan celeng tersebut minum air pipisnya seorang raja sehingga celeng tersebut hamil dan melahirkan bayi cantik. Bayi tersebut ditemukan raja di hutan lalu diberi nama Dayang Sumbi.



Ketimbang menikah dengan para jejaka pilihan, ia malah menikah dengan si Tumang. Si Tumang ini adalah anjing titisan Dewa. Dari pernikahan tersebut lahir Sangkuriang. Anak lelaki Dayang Sumbi itu tidak pernah tahu kalau ayahnya adalah anjing dan neneknya adalah celeng.

Suatu hari karena si Tumang tidak mau memburu celeng yang merupakan nenek Sangkuriang (dan saudari Dewa tersebut), anjing tersebut ganti dibunuh dan dijadikan santapan oleh Sangkuriang.

Sajian tersebut diberikan kepada Dayang Sumbi. Saat ketahuan, Sangkuriang pun dipukul kepalanya dengan ulekan dan diusir sampai bertahun-tahun kemudian.



Kecantikan Dayang Sumbi yang tidak berubah membuat Sangkuriang yang sudah dewasa terpikat dan ingin mengawininya. Ia tidak tahu bahwa Dayang Sumbi adalah ibunya. Dayang Sumbi mencoba mengelak dengan minta dibuatkan perahu dan telaga.

Karena Sangkuriang sakti mudah saja baginya memenuhi permintaan itu. Tetapi Dayang Sumbi tak kalah cerdiknya. Dengan akal-akalannya menumbuk lesung dan membuat ayam jantan berkokok sehingga jin-jin yang menjadi bala bantuan Sangkuriang kabur semua. Dayang Sumbi berhasil menggagalkan usaha Sangkuriang.

Sangkuriang yang pada akhirnya tahu menendang perahu buatannya hingga terbalik dan mengubahnya menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Dengan kemarahan ia terus mengejar Dayang Sumbi sampai mendapatkannya.

Ribet ya ceritanya? Memang. Makanya cerita dongeng ini tuh tidak pantas untuk anak-anak. Pernikahan dengan hewan, pernikahan dengan keluarga sendiri, aksi tipu-tipu yang dilakukan kepada anak sendiri, menambah rasa tidak pas. Dongeng atau legenda memang menarik untuk diketahui. Tetapi untuk disajikan kepada anak-anak alangkah baiknya jika cerita-cerita itu kita pilah-pilih terlebih dahulu sebelum diberikan.

Bagikan info ini ke kerabat, saudara, dan juga orang yang Anda sayang...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "WASPADALAH !!! Dongeng Ini Tak Layak Dibaca Anak-anak! Inilah Alasannya"

Post a Comment